Mengintip Masjid Bersejarah di Ponorogo Melalui Kaca Pembesar Perpusda “Pojok Ponorogo”

 

Ponorogo, Sebuah kabupaten di Jawa Timur, tidak hanya dikenal dengan kesenian Reog-nya, tetapi juga menyimpan kekayaan sejarah Islam melalui masjid-masjid bersejarahnya. Meskipun Ponorogo termasuk kota yang kecil, namun tidak dengan peninggalan bersejarahnya yang segudang. Masjid-masjid ini tidak hanya menjadi tempat beribadah, tetapi juga menjadi pusat kegiatan sosial dan spiritual bagi masyarakat sekitar.

Hal tersebut dapat dibaca melalui buku yang ditulis oleh Farizal Hakim, A.Md., S.Sos dengan judul “Masjid Bersejarah di Kabupaten Ponorogo, 9 Masjid Bersejarah dan Makam yang Berkaitan”. Buku ini memberikan informasi mendalam mengenai sejarah masjid-masjid bersejarah di Ponorogo serta makam-makam yang terkait. Buku tersebut tersedia di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ponorogo, tepatnya di bagian “Pojok Ponorogo.”

Pengunjung yang tertarik dapat menemukan berbagai koleksi buku di Pojok Ponorogo, tidak hanya mengenai masjid-masjid bersejarah, tetapi juga tentang asal-usul Reyog, sejarah Ponorogo, Babad Ponorogo, Melihat Ponorogo Lebih Dekat, naskah kuno, dan masih banyak lagi. Dinas Perpustakaan dan Arsip Ponorogo terus mendukung masyarakat dalam memperoleh informasi berharga mengenai sejarah dan budaya lokal melalui koleksi buku yang lengkap dan tersusun rapi. Seluruh staff layanan dan informasi Perpustakaan daerah menjaga dengan baik buku-buku peninggalan yang bersejarah.

Berikut ini pembahasan singkat dari masjid bersejarah di Ponorogo yakni, Masjid Kyai Ageng Muhammad Besari (Masjid Tegalsari) yang memiliki nilai sejarah tinggi dan terus dipertahankan hingga saat ini. Masjid-masjid bersejarah di Ponorogo ini menunjukkan betapa besarnya peran agama Islam dalam membentuk karakter masyarakat di daerah ini. Dengan mempertahankan keaslian bangunan dan semangat keagamaan, Ponorogo berhasil menjaga warisan spiritual yang menjadi identitas kuat bagi masyarakatnya. Setiap masjid menyimpan cerita dan nilai yang tak ternilai, menjadi saksi bisu dari perjalanan panjang agama Islam di Ponorogo.

Masjid Kyai Ageng Muhammad Besari atau yang lebih dikenal sebagai Masjid Tegalsari, terletak di Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis, Ponorogo. Masjid ini merupakan salah satu peninggalan sejarah Islam yang sangat berpengaruh di Jawa Timur, terutama dalam penyebaran agama Islam dan pengembangan pendidikan Islam pada abad ke-18. Hingga kini, masjid tersebut masih berdiri kokoh dan menjadi saksi bisu peran pentingnya dalam perjalanan sejarah Ponorogo.

Masjid Tegalsari didirikan oleh Kyai Ageng Muhammad Besari, seorang ulama besar yang lahir pada tahun 1700 Masehi. Beliau dikenal sebagai tokoh yang berperan dalam penyebaran agama Islam di wilayah Ponorogo dan sekitarnya. Sebagai ulama kharismatik, Kyai Ageng Muhammad Besari mendirikan pesantren di Tegalsari yang kemudian menjadi salah satu pusat pendidikan Islam terbesar dan paling berpengaruh di Jawa Timur pada masa itu.

Kyai Ageng Muhammad Besari bukan hanya dikenal sebagai seorang ulama, tetapi juga sebagai guru dari banyak tokoh besar dalam sejarah Indonesia. Salah satunya adalah Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa, pendiri Keraton Surakarta, yang pernah belajar di bawah bimbingan beliau. Selain itu, hubungan erat antara Kyai Ageng Muhammad Besari dengan Kerajaan Mataram Islam membuat Tegalsari menjadi pusat spiritual yang dihormati oleh para bangsawan dan masyarakat luas.

Secara arsitektural, Masjid Tegalsari masih mempertahankan keaslian bangunan dari masa lampau. Masjid ini memiliki ciri khas arsitektur tradisional Jawa, dengan atap berbentuk tajug atau limas bertingkat, yang sering diasosiasikan dengan gaya bangunan masjid-masjid kuno di Nusantara. Bangunan utama masjid terbuat dari kayu jati yang masih kokoh hingga saat ini, memperlihatkan kekuatan konstruksi tradisional pada masanya.

Di dalam masjid, terdapat mimbar kayu jati berukir yang digunakan untuk khotbah. Mimbar ini diyakini sebagai salah satu bagian asli dari masjid sejak awal pembangunannya. Selain itu, terdapat pula bedug besar yang menjadi ciri khas masjid-masjid tua di Jawa. Ornamen-ornamen yang menghiasi bagian dalam masjid, meskipun sederhana, mencerminkan kesan spiritual dan kesederhanaan, yang sejalan dengan nilai-nilai ajaran Islam.

Halaman masjid yang luas dan asri sering digunakan untuk berbagai kegiatan keagamaan, mulai dari pengajian hingga acara besar peringatan hari-hari besar Islam. Di sekitar masjid, terdapat kompleks pemakaman keluarga besar Kyai Ageng Muhammad Besari, yang hingga kini tetap diziarahi oleh masyarakat.

Seiring berjalannya waktu, Masjid Tegalsari tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan Islam. Pesantren Tegalsari, yang didirikan oleh Kyai Ageng Muhammad Besari, menjadi salah satu pesantren tertua dan terbesar di Jawa Timur. Dari pesantren inilah lahir banyak ulama besar yang berperan dalam penyebaran ajaran Islam di Nusantara.

Pada abad ke-19, pesantren Tegalsari mulai mengalami kemunduran setelah wafatnya Kyai Ageng Muhammad Besari. Meski begitu, warisan beliau dalam bidang pendidikan Islam terus diteruskan oleh para santri dan keturunannya. Beberapa cabang dari pesantren ini bahkan berkembang menjadi pesantren-pesantren besar lainnya di wilayah Jawa Timur.

Pada era modern, Masjid Tegalsari tetap menjadi tempat yang dihormati. Masyarakat Ponorogo dan sekitarnya sering melakukan ziarah ke masjid ini, terutama pada hari-hari besar Islam, seperti Maulid Nabi Muhammad SAW dan bulan Ramadan. Selain itu, Masjid Tegalsari juga menjadi destinasi wisata religi bagi pengunjung dari berbagai daerah yang ingin mengetahui lebih dalam tentang sejarah Islam di Ponorogo.

Masjid Kyai Ageng Muhammad Besari bukan hanya sekadar bangunan tua, tetapi juga simbol kebangkitan Islam di Ponorogo. Peran penting masjid ini dalam penyebaran ajaran Islam serta sebagai pusat pendidikan membuatnya dihormati oleh berbagai kalangan. Kyai Ageng Muhammad Besari sendiri dianggap sebagai salah satu ulama besar yang berjasa dalam membentuk masyarakat Ponorogo yang religius dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam.

Meskipun pesantren Tegalsari tidak lagi sebesar masa kejayaannya, nilai-nilai yang diwariskan oleh Kyai Ageng Muhammad Besari masih terasa hingga saat ini. Banyak pesantren dan lembaga pendidikan Islam modern yang merujuk pada ajaran dan metode pengajaran beliau, menjadikan Tegalsari sebagai salah satu titik penting dalam sejarah pendidikan Islam di Indonesia.

Warisan ini harus terus dijaga dan dilestarikan oleh generasi mendatang, agar nilai-nilai yang dibawa oleh Kyai Ageng Muhammad Besari tetap hidup dalam masyarakat dan memberikan manfaat yang berkelanjutan.

 

Copywriter : Afifah Manuhara Putri Wina (Mahasiswa S1 Sastra Indonesia, Universitas Negeri Surabaya).

 

Wisata Literasi Kelompok Ilmiah Santri Junior Pondok Pesantren Al-Islam, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Ponorogo Ikut Serta dalam Menginspirasi Santri dengan Budaya Literasi

Ponorogo – Dalam upaya memperkuat budaya literasi di kalangan masyarakat, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Ponorogo menggelar Kunjungan Wisata Literasi pada Jum’at, 27 September 2024. Acara yang berlangsung di ruang pertemuan Disperpusip ini berhasil menarik perhatian puluhan pengunjung, terutama para santri. Acara ini diselenggarakan atas permintaan izin kerja sama dari Komunitas Ilmiah Santri Junior (KJSU) Pondok Pesantren Al-Islam “ASLAM” Periode 1445-1446 H/ 2023-2024 M.

Foto Bersama Usai Kegiatan WIsata Literasi

Acara dibuka dengan perkenalan oleh Master of Ceremony yakni Bu Vita dan/ mengenai  perpustakaan. Demi memeriahkan kegiatan tersebut, seluruh staff layanan dan informasi perpustakaan mengadakan sosialisasi mengenai layanan perpustakaan. Tak hanya itu staff juga menyiapkan banyak hadiah untuk para santri yang berhasil menjawab quiz-quiz umum yang diajukan oleh Bu Vita dan Ustazah.

Dalam kegiatan tersebut menjelaskan banyak sekali layanan perpustakaan seperti, aplikasi Pustaka E-Wengker. Sebuah platform digital inovatif yang dirancang untuk memudahkan akses terhadap buku dan sumber daya literasi. Melalui aplikasi ini, pengguna dapat menjelajahi koleksi buku digital dan berbagai informasi penting tentang literasi. “Kami berharap aplikasi ini dapat memfasilitasi minat baca, terutama di era digital saat ini, jadi ke depannya akan lebih mudah untuk membaca” ujar Bu Vita.

Selanjutnya, peserta diajak untuk belajar step-step membuat kartu keanggotaan perpustakaan, yang merupakan langkah awal bagi mereka untuk memanfaatkan berbagai layanan perpustakaan. Proses pembuatan kartu ini dirancang agar mudah diikuti, memberikan akses yang lebih luas kepada masyarakat untuk menikmati fasilitas yang disediakan.

Salah satu kegiatan menarik dalam acara ini adalah perkenalan proyek kerja sama antara Disperpusip Ponorogo dan LKP Rida Bordir. Dalam video tersebut dijelaskan bahwa proyek ini bertujuan untuk mengintegrasikan keterampilan praktis bagi masyarakat.  Dalam suasana yang penuh keceriaan, sesi kuis yang dipandu oleh Bu Vita dan Ustazah menjadi sorotan utama. Anak-anak dengan semangat menjawab berbagai pertanyaan tentang buku dan literasi, pertanyaan quiz berasal dari video-video yang telah ditampilkan sebelumnya.

Peserta sedang menikmati koleksi bacaan di perpustakaan daerah

Para santi berkompetisi untuk menjawab quiz dan mendapatkan hadiah menarik. Acara ini semakin hidup dengan penampilan yel-yel dari sekolah, nyanyian lagu “Indonesia Raya,” serta pembacaan puisi dari salah satu peserta bertema “Hujan”. Tidak hanya itu, para siswa juga memperagakan Salam Literasi yang merupakan simbol dukungan mereka terhadap budaya membaca.

Sebagai penutup, pengunjung diarahkan menuju ruang baca, di mana mereka dapat menikmati berbagai buku yang tersedia. Beberapa anak bahkan antusias mengisi formulir pendaftaran sebagai anggota perpustakaan, menunjukkan komitmen mereka untuk terus belajar dan membaca. Kunjungan Wisata Literasi ini diharapkan dapat menjadi momentum bagi masyarakat Ponorogo, khususnya anak-anak Pondok Pesantren Al-Islam, untuk lebih mencintai dunia literasi. “Kami ingin mengajak semua kalangan untuk bersama-sama membangun budaya baca yang kuat. Dengan membaca, kita dapat membuka wawasan dan memperkaya pengetahuan,” ujar salah satu peserta saat dipersilahkan

Acara ini tidak hanya sukses dalam menarik minat, tetapi juga membangun kesadaran akan pentingnya literasi dalam kehidupan sehari-hari, menjadikan Ponorogo sebagai kota yang berbudaya dan berliterat tinggi.

 

Content Writer: Afifah Manuhara Putri Wina (Mahasiswa S1 Sastra Indonesia, Universitas Negeri Surabaya).