Tim Layanan Perpustakaan Memperingati Hari Ibu Bersama Panti Asuhan Sulaiman Dahlan

Ponorogo – Dalam rangka memperingati hari ibu dan juga meningkatkan minat baca di kalangan anak-anak asuh LKSA Kabupaten Ponorogo, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ponorogo mengadakan kegiatan perpustakaan kelilingdi Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Sulaiman Dahlan, Plalangan – Jenangan – Ponorogo, Jum’at (23/12) Pukul 08.30 pagi.

Kegiatan yang diadakan di halaman Masjid Baitul Akbar tersebut disambut dengan hangat oleh anak-anak asuh dan para pengurus LKSA Sulaiman Dahlan. Acara tersebut diawali dengan sambutan oleh Ketua LKSA bapak Drs. Sarlan Alfaridzi dan dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ponorogo.

Dalam sambutannya, bapak Drs. Sarlan Alfaridzi mengingatkan anak-anak asuh LKSA Sulaiman Dahlan Ponorogo untuk gemar membaca.

“Program ini untuk meningkatkan literasi, untuk membuat reading habit atau hubbul-qiro’ah. dan jika kalian ingin pintar, maka kalian harus gemar membaca” Tutur Pak Sarlan, sapaan akrab Ketua LKSA Sulaiman Dahlan Ponorogo tersebut.

Pak Sarlan juga berkesempatan untuk menjelaskan perbedaan reading habit orang Indonesia dengan orang Jepang.

“Orang Jepang paling rajin baca, bahkan ketika di kereta dan bahkan antri sekalipun, orang Jepang menyempatkan untuk membaca. mereka membaca dan bisa menyimpulkan apa yang telah mereka baca. sedangkan orang Indonesia, membaca saja belum tentu, apalagi menyimpulkan.” terang Pak Sarlan.

Bu Agus sebagai perwakilan dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ponorogo, turut memberikan kata sambutan guna mengingatkan para anak-anak asuh LKSA Sulaiman Dahlan Ponorogo agar rajin membaca, terkhusus bagi anak-anak perempuan karena mereka adalah “sekolah pertama” bagi putra-putri mereka kelak.

“Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Ibu, Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. dan di dalam hadits, Ibu disebutkan 3 kali baru ayah. maka, walaupun perempuan, kalian juga harus rajin membaca, rajin belajar, karena kelak kalian akan menjadi sekolah pertama bagi anak-anak kalian. itulah peran seorang Ibu” terang Bu Agus.

Di penghujung kegiatan safari literasi, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ponorogo mengadakan kuis untuk para anak-anak asuh LKSA Sulaiman Dahlan Ponorogo, yang diakhiri dengan pembagian doorprize untuk para pemenang.

 

Coppywriter Mohammad Abdul Hamid Alfarizi / Photo Revydo Putra

Talkshow Literasi Budaya “Seni Reog Ponorogo : Sejarah dan Dinamika Dari Waktu Ke Waktu”

Ponorogo – Dalam rangka memperkenalkan koleksi buku di Perpustakaan Daerah Ponorogo, khususnya koleksi buku tentang budaya Ponorogo atau disebut Ponorogo Corner, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ponorogo bekerjasama dengan Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) menggelar acara “Talkshow Literasi Budaya” bagi perwakilan beberapa mahasiswa dari universitas di daerah Ponorogo, Kamis (08/12).

Talkshow yang digelar di UPT Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Ponorogo tersebut, mengusung tema “Seni Reyog Ponorogo: sejarah dan dinamika dari waktu ke waktu” mampu menarik antusias para peserta untuk larut dalam menyelami setiap materi yang disampaikan oleh narasumber. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ponorogo menghadirkan narasumber dari pengurus Yayasan Reyog Ponorogo yang mana juga seorang penulis buku “Seni Reyog Ponorogo, sejarah, nilai, dan dinamika dari waktu ke waktu”, bapak Dr. Rido Kurnanto, M.Ag. selaku Wakil Ketua I Yayasan Reyog Ponorogo yang sudah berpengalaman dalam sejarah kebudayaan daerah Ponorogo.

Dalam penuturannya, bapak Dr. Rido Kurnanto, M. Ag. memulai talkshow dengan menjelaskan sejarah awal mula kesenian Reog Ponorogo.

“Reyog ini bermula dari tokoh-tokoh warog Ponorogo, dan kebanyakan sudah sedho. sejarah tutur mengatakan bahwa keberadaan reyog bersamaan dengan kedatangan penduduk bumi Ponorogo itu sendiri. namun sejarah literasi mengatakan, sejak tahun 1919 keberadaan reyog Ponorogo sudah ada, akan tetapi baru didaftarkan ke daftar warisan tak benda Republik Indonesia pada tahun 2010 dan disetujui pada tahun 2013” Tutur Ustadz Rido, sapaan akrab Wakil Ketua I Yayasan Reyog Ponorogo tersebut.

Pada kesempatan tersebut pula, Ustadz Rido berkesempatan untuk meluruskan pandangan-pandangan yang salah diantara masyarakat terkait reyog khususnya tentang warok-warokan dan gemblak-gemblakan.

“Warok dan Gemblak berarti ada transfer ilmu antara Warok dengan asistennya yaitu Gemblak tadi, Warok dan Gemblak adalah budaya asli Ponorogo, kalo ada istilah warok-warokan atau gemblak-gemblakan itu hanya oknum saja. jadi jangan salah pandang tentang Warok dan Gemblak” Terang Ustadz Rido.

Suasana semakin meriah saat moderator memberikan kesempatan kepada para peserta untuk bertanya tentang apa saja yang berkaitan dengan budaya seni reyog ponorogo, dan disambut baik dengan serbuan pertanyaan. Sejumlah peserta melontarkan pertanyaan kepada narasumber secara bergantian, rasa ingin tahu mereka terbayarkan ketika mendapatkan jawaban dari narasumber secara langsung.

Di penghujung kegiatan talkshow, Ustadz Rido menyampaikan beberapa patah kata closing statement yang menandai berakhirnya sesi tanya jawab.

“Reyog Ponorogo ini sudah mendunia. Artinya, masyarakat internasional sudah mengakui dan mengapresiasi seni Reyog Ponorogo. maka harapanya, kesenian ini harus dilestarikan dan dikembangkan menuju arah yang lebih maju dan lebih unggul”, harap Ustadz Rido.

Copywiriter Mohammad Abdul Hamid Alfarizi

Photo Revydo Putra Perdana

SOSIALISASI APLIKASI SRIKANDI DI LINGKUP PEMKAB PONOROGO

Ponorogo – Asisten Administrasi Umum mewakili Bupati Ponorogo, Bapak Sapto, bersama Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ponorogo, Ibu Dewi Wuri Handayani, S.Sos., Kepala Dinas Kominfo dan Statistik Kabupaten Ponorogo Bapak Bambang Suhendro, S.T., M.M., dan Narasumber dari Arsip Nasional Republik Indonesia, Bapak Muhammad Solihin menghadiri sekaligus memberi sambutan pada acara Launching Penerapan Sistem Informasi Kearsipan Dinamis Terintegrasi (SRIKANDI) di Kabupaten Ponorogo.

Peluncuran SRIKANDI yang diinisiasi oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ponorogo, dilaksanakan di Ruang Pertemuan, Gedung BAPPEDA Litbang Lantai 2, Rabu (07/12)

Turut hadir dalam acara peluncuran SRIKANDI di wilayah Kabupaten Ponorogo, Perwakilan dari kesekretariatan DPRD, Perwakilan Satpol-PP Ponorogo, Perwakilan Inspektorat Kabupaten Ponorogo, Perwakilan Kepala OPD di lingkup Pemkab Ponorogo, Perwakilan Camat se-Ponorogo, dan undangan lainnya.

Launching SRIKANDI dilaksanakan oleh Asisten Administrasi Umum Bapak Sapto yang mewakili Bupati Ponorogo, ditandai dengan mengucapkan basmalah bersama-sama serta mengetuk mic tiga kali.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ponorogo, Ibu Dewi Wuri Handayani, S.Sos. menyampaikan beberapa kepentingan dari digitalisasi arsip, beberapa diantaranya adalah upaya melaksanakan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) di lingkup Pemkab Ponorogo, mendukung upaya pelaksanaan kearsipan digital dan upaya pemerintah untuk mengurangi dokumen kertas (paperless)

Asisten Administrasi Umum mewakili Bupati Ponorogo, Bapak Sapto, atas nama Bupati Ponorogo sangat menyambut baik dan mengapresiasi launching penerapan SRIKANDI untuk segera diberlakukan di seluruh Pemerintahan Kabupaten Ponorogo, karena melalui penerapan SRIKANDI ini merupakan wujud penyelenggaraan kearsipan berbasis teknologi informasi komunikasi sehingga pengelolaan arsip lebih efektif dan efisien dalam proses administrasi pemerintahan, khususnya di lingkup Pemkab Ponorogo.

Lebih lanjut Bapak Sapto mengatakan di era globalisasi, lembaga pemerintahan harus bisa beradaptasi dengan perkembangan teknologi, apalagi sudah banyak teknologi yang mengunakan internet yang sangat memudahkan. maka dari itu sangatlah tepat kalau pengelolaan kearsipan harus mengikuti perkembangan zaman.

Kepala Dinas Kominfo dan Statistik Kabupaten Ponorogo Bapak Bambang Suhendro, S.T., M.M., menjelaskan bahwa memasuki era sekarang, mau tidak mau digitalisasi akan terlaskana. hal itu dibuktikan dengan disosialisasikannya aplikasi SRIKANDI, yang salah satunya adalah mengupayakan dokumen paperless atau dokumen dengan lebih sedikit kertas. bahkan Bapak Bambang menjelaskan bahwa kedepannya, seluruh undangan softfile akan disepakati sebagai undangan resmi di lingkup pemerintahan.

Sementara Narasumber dari Arsip Nasional Republik Indonesia, Bapak Muhammad Solihin menjelaskan secara rinci tujuan dari launching dan sosialisasi aplikasi SRIKANDI adalah menyelaraskan menyatukan persepsi serta memperluas pengetahuan atas aplikasi SRIKANDI yang nantinya akan diterapkan di lingkungan Pemkab Ponorogo. Membangun kesadaran pentingnya mengelola arsip secara elektronik, Membangun penyelenggaraan tertib arsip, untuk menjamin agar pencipta arsip di daerah dapat mewujudkan pengelolaan arsip yang lebih baik sesuai dengan prinsip, kaidah, standar kearsipan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pada penghujung acara, Panitia Penyelenggara mengadakan sesi tanya jawab diantara Narasumber ANRI Bapak Muhammad Solihin dan Kepala OPD Ponorogo, agar sosialisasi Aplikasi SRIKANDI dapat dipahami dengan baik oleh para pemangku kepentingan di lingkup Pemkab Ponorogo, dan acara ditutup dengan sesi perfotoan bersama.

 

Reporter Mohammad Abdul Hamid Alfarizi

Photo Revydo Putra Perdana