
Ponorogo, Rabu, 22 Mei 2024 – Dalam rangka melaksanakan Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ponorogo, bekerjasama dengan LKP Rida Bordir, menyelenggarakan pelatihan menjahit. Kegiatan pelatihan ini dibagi menjadi 2 sesi. Sesi pertama yaitu pembekalan materi untuk peserta, dilaksanakan di perpustakaan Daerah Kabupaten Ponorogo, dan sesi kedua yaitu praktek menjahit dilaksanakan di laboratorium LKP Rida Bordir.
Kegiatan ini dimulai dengan perekrutan peserta, yang kemudian dilanjutkan dengan serangkaian proses seperti pengukuran badan, pembuatan pola, dan praktek menjahit. Peserta yang berusia 15-25 tahun, dan belum memiliki pekerjaan, diberikan pelatihan intensif selama satu hingga dua bulan. Mereka diajarkan tidak hanya keterampilan menjahit, tetapi juga bekal kewirausahaan, pengelolaan, dan administrasi untuk mempersiapkan mereka membuka usaha mandiri.
Farida Widyastuti, S.E., pimpinan LKP Rida Bordir, menjelaskan tujuan dari program ini: “Kami ingin mengembangkan ilmu dan teknologi di bidang pendidikan non-formal, membantu pemerintah dalam menyukseskan pembangunan nasional, serta mencetak sumber daya manusia yang terampil dan profesional. Kami juga berkomitmen untuk menjadi lembaga pendidikan yang memiliki jiwa wirausaha.”
Pelatihan yang dimulai pada tanggal 22 April 2024 ini melibatkan 25 peserta yang telah melalui proses seleksi ketat dari lebih dari 50 pendaftar. Dengan total durasi 250 jam, pelatihan diadakan setiap hari Senin hingga Sabtu selama enam jam per hari. Setelah proses seleksi, diadakan technical meeting untuk menjelaskan rincian program dan pembagian kelompok berdasarkan tingkat kemampuan menjahit.
Pelatih yang terlibat berasal dari berbagai latar belakang, termasuk staf LKP Rida Bordir, sarjana tata busana, narasumber luar, Dinas Perdakum, dan Asosiasi UMKM. Pelatihan juga direncanakan untuk disabilitas dan tuna rungu dengan menghadirkan guru dari SLB, menunjukkan inklusivitas program ini. Untuk referensi materi pelatihan menjahit, peserta dapat meminjam secara gratis di perpustakaan daerah Kabupaten Ponorogo, dengan syarat menjadi anggota perpustakaan terlebih dahulu.
Program ini telah menunjukkan dampak positif yang signifikan. Para peserta tidak hanya memperoleh keterampilan teknis menjahit, tetapi juga siap membuka usaha sendiri. “Dengan keterampilan yang saya pelajari di sini, saya berharap bisa membuka usaha kecil di rumah,” ujar Gandhi, salah satu peserta.

Peserta sedang praktik menjahit
Respon masyarakat terhadap program ini sangat positif. Kerjasama antara perpustakaan dan LKP Rida Bordir dalam menyediakan bahan ajar berupa modul dan buku-buku menjadi salah satu kunci sukses program ini. Produk yang dihasilkan oleh peserta meliputi kebaya, blush, seragam, mukena, dan gaun, yang menunjukkan keragaman keterampilan yang diajarkan.
Dra. Agus Sriwahyuni, M.Si. Kepala Bidang Layanan dan Informasi Perpustakaan Dan Kearsipan, menyampaikan bahwa Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial ini diharapkan terus berlanjut dan berkembang, memberikan manfaat yang lebih luas lagi di masa depan. Program ini menjadi contoh sukses bagaimana perpustakaan bisa bertransformasi menjadi pusat pemberdayaan masyarakat yang efektif dan inklusif.
Dengan demikian, perpustakaan telah berhasil bertransformasi menjadi lebih dari sekadar tempat membaca, tetapi juga sebagai pusat kegiatan masyarakat yang mampu mencetak lulusan dengan keunggulan bersaing dan jiwa wirausaha yang kuat.
Reporter: Aryyo Widagdho, Muh. Hafidz Fadhlur Rohman & M. Jundi Robbani
(Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNIDA Gontor)