
Drs. Magoen Oetomo sedang menunjukkan bagian dan makna dari lambang daerah Kabupaten Ponorogo
Ponorogo, 28 Mei 2024 – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ponorogo menggelar acara penelusuran arsip untuk mendokumentasikan sejarah penciptaan lambang daerah Kabupaten Ponorogo. Kegiatan yang berlangsung di kediaman Drs. H. Mangoen Oetomo ini bertujuan melestarikan sejarah arsip Ponorogo dan menyusun sejarah lisan penciptaan lambang daerah tersebut.
Drs. H. Mangoen Oetomo, pencipta lambang daerah tersebut, terlibat langsung dalam kegiatan ini. “Kami berharap kegiatan ini dapat memperkaya pengetahuan masyarakat tentang identitas visual Ponorogo,” ujar Dra. Agus Sriwahyuni, M.Si., Kepala Bidang Layanan dan Informasi Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ponorogo.
Penelusuran arsip ini dilakukan dengan menggali dokumen tertulis serta narasi dari Drs. H. Mangoen Oetomo. Diharapkan kegiatan ini dapat menghasilkan informasi tertulis seperti surat keputusan penetapan lambang daerah serta cerita nyata yang dapat disampaikan ke masyarakat dalam bentuk digital. Proses ini memakan waktu satu hari untuk koordinasi dan penelusuran, dengan hasil yang akan diolah dan diedit kemudian.
Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak, termasuk arsiparis, pustakawan, dan mahasiswa Ilmu Komunikasi dari UNIDA Gontor. Tim juga dibentuk untuk menangani berbagai aspek kegiatan, seperti pengambilan video dan foto, wawancara, serta pengeditan.

Drs. Magoen Oetomo dengan semangat yang tak pernah pudar untuk memberikan yang terbaik bagi Kabupaten Ponorogo
Lambang daerah Kabupaten Ponorogo, yang dibuat pada tahun 1968, didesain oleh Drs. H. Mangoen Oetomo. Inspirasi pembuatan lambang daerah berasal dari ide pribadi, referensi Al-Qur’an, dan Hadist Rasulullah serta mengambil dari nilai-nilai luhur budaya lokal Ponorogo. Lambang ini mencerminkan kehidupan masyarakat Ponorogo, dengan elemen-elemen seperti Wara’ (ahli ibadah), qana’ah (merasa cukup), simbol-simbol keindahan, dan filosofi hidup.
Lambang daerah Ponorogo memiliki sebelas komponen utama dan filosofinya. Bintang Emas Bersudut Lima melambangkan Ketuhanan Yang Maha Esa dan dasar negara Pancasila. Sinar Cahaya melambangkan petunjuk Tuhan menuju kesejahteraan rakyat. Gapuro Bentar mencerminkan kejayaan di bawah Batoro Kathong, sedangkan Penampang Reyog dengan Lima Jalur di Atas Empat Trap mengesankan angka bersejarah 45 (tahun Proklamasi 1945). Selain itu, Gunung Terdiri dari Dua Puncak melambangkan lokasi Ponorogo di antara Gunung Lawu dan Gunung Wilis. Samudra Lepas mencerminkan pemerintahan yang abadi. Pita dan Garis Cakrawala adalah simbol tugas yang harus diselesaikan. Padi Berbiji 17 dan Kapas Berbuah 8 melambangkan Proklamasi 17 Agustus dan kemakmuran daerah. Tulisan Ponorogo melambangkan mawas diri dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Output dari kegiatan ini termasuk rekaman video, audiovisual, dan laporan. Hasil penelusuran akan diolah dan kemudian dilayankan sebagai bahan referensi penilitian dan pendidikan, serta diunggah di situs YouTube dan JIKN (Jaringan Informasi Kearsipan Nasional). “Acara ini sangat penting untuk menyelamatkan dan melestarikan sejarah agar tidak tenggelam dan bisa disampaikan kepada masyarakat dalam bentuk digital maupun audiovisual,” tambah Dra. Agus Sriwahyuni, M.Si.
Penelusuran arsip ini bukan hanya upaya untuk melestarikan sejarah, tetapi juga untuk memberikan edukasi kepada generasi mendatang tentang identitas dan warisan budaya Kabupaten Ponorogo. Hasilnya diharapkan dapat diakses oleh siapa saja yang ingin mengenal lebih dalam sejarah dan filosofi di balik lambang daerah Kabupaten Ponorogo.
Reporter: Aryyo Widagdho, M. Jundi Rabbani & Muh. Hafidz Fadhlur Rohman (Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNIDA Gontor)