
Ponorogo – Kegiatan bertema sastra kembali digelar oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ponorogo. Berbeda dari sebelumnya, kali ini rangkaian kegiatan difokuskan khusus pada Sastra Jawa. Judul yang dipilih adalah Sarasehan Sastra Jawa dengan tema “Proses Kreatif Menulis Sastra Jawa: Dari Ide sampai Menghasilkan Karya.”
Kegiatan dilaksanakan pada Kamis, 4 Desember 2025 di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ponorogo. Acara dibuka oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Bapak Drs. Joni Widarto, M.Si, kemudian dilanjutkan dengan perkenalan narasumber oleh moderator. Yang membuat suasana semakin hangat, moderator membuka sarasehan ini dengan lantunan satu tembang macapat, yakni Pucung, sehingga nuansa tradisi Jawa semakin terasa sedari awal. Peserta sarasehan berasal dari mahasiswa dan dosen STKIP PGRI Ponorogo Program Studi Sastra Jawa serta mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Ponorogo.
Narasumber pada kegiatan ini adalah Mas Gayuh, guru Bahasa Jawa di SMA Muhipo sekaligus penulis aktif di berbagai media. Beberapa karya tulis beliau dalam bahasa Jawa telah dimuat di sejumlah majalah. Moderator kegiatan adalah Mas Nadhif, yang juga berprofesi sebagai guru. Dalam pemaparannya, narasumber menyampaikan proses kreatif dalam menulis karya sastra yaitu dimulai dari menemukan ide, mengembangkan gagasan, hingga menyelesaikan tulisan. Mas Gayuh membagi proses menulis menjadi tiga tahap utama, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan penutup, sehingga peserta dapat memahami alur kreatif secara lebih runtut.

Beliau menjelaskan bahwa ide dapat muncul dari berbagai sumber: gambar atau media digital, aktivitas membaca, percakapan sehari-hari, hasil pengamatan langsung, pengetahuan yang dimiliki, hingga pengalaman pribadi. Selain itu, narasumber menekankan bahwa dalam menulis, seseorang harus memiliki keberanian. Keberanian untuk menuangkan apa yang ingin disampaikan tanpa terlalu banyak dibatasi rasa ragu.
Pada penutup sesi, narasumber kembali menegaskan bahwa karya sastra lahir dari keberanian mengungkapkan gagasan. Selama masih ada yang menulis dan merawatnya, Sastra Jawa akan terus hidup dan menjadi bagian penting dalam kebudayaan kita.
Copywriter Ela Sarlita / Photo Vitasa