| NAMA | ASAL SEKOLAH |
| Aqila Zahwa Hanisa Zahin | SDN Nongkodono |
| Gendis Khumaira Althafunnisa | MI MUHAMMADIYAH 14 PONOROGO |
| Harinindya Naura Hapsari | SDN 3 PULUNG KEC. PULUNG |
| Alexandriana Indarto | SDN 1 Karanglolor |
| Glory Michaella Putri Yosua | SDN PULUNGMERDIKO |
| Rizkia Fathina | SDN 2 TAJUG |
| Riva Nur Sovia Julviani Putri | SDN 5 KREBET, KEC. JAMBON, KAB. PONOROGO |
| Iffa Ataya Anindya | SDN SINGKIL |
| Cinta Putri Pratama | SDN 1 Slahung |
| Khanza Allya Safika Prinsea | SDN 2 SOMOROTO |
| Kisowo Sidhi Pamedhar | SD NEGERI PADAS |
| Raisya Firta Zevana Albani | SDN 1 CARANGREJO |
| Bellvania Lune Maheswari | SDN 3 BANGUNSARI |
| Alenta Cahya Ariani | SDN 1 SIMAN |
| Aprila Maulida Kamila | SDN 3 CARANGREJO |
| Renita Anggini Fajariyah | SD Negeri 1 Tugu |
| Gaitsha Fellicia Henzie Widowoko | SDN 2 KESUGIHAN |
| Alchayra Beryl Zaskirana | SD MUHAMMADIYAH PONOROGO |
| Arlin Ayunda Sari | SD Negeri Ngampel |
| Ricita Nilahandaru Alwb | SD NEGERI SAWUH |
| Rani Ayu Fadilla | SD NEGERI TATUNG |
| Nofva Qirana Putri | SDN 1 KENITEN |
| Cindy Lailatul Fitriyah | SD NEGERI 3 SENEPO |
| Agita Aya Riyadini | SD NEGERI 1 BAOSAN LOR |
| Fadyra Syakilla Putri | SD NEGERI 2 TEMON |
Penulis: perpusponorogogo_perpusponorogo
PROGRAM TPBIS 2025 “PELATIHAN SULAM PITA”


Ponorogo – Pemerintah Kabupaten Ponorogo melalui Dinas Perpustakaan Dan Kearsipan terus mengembangkan program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial di wilayah Kabupaten Ponorogo. Dalam program ini mayarakat diperkenalkan dengan aneka ragam layanan perpustakaan serta diajak untuk berkativitas / berkegiatan di perpustakaan. Sosialisasi terus dilakukan agar masyarakat mengenal lebih dekat perpustakaan serta mengetahui bahwa perpustakaan bukan hanya tempat membaca buku tetapi juga sebagai pusat kegiatan masyarakat yang berbasis pengetahuan.
Seperti saat ini [27/02/2025], masyarakat diajak untuk terlibat dalam kegiatan pelatihan sulam pita. Kegiatan ini diikuti oleh 30 orang peserta dengan narasumber dari LKP Rida Bordir Ponorogo. Dalam pelatihan ini, peserta diajak untuk mengenal dasar-dasar keterampilan sulam pita, praktek aneka jenis model sulam dan mengaplikasikan hasil sulam kedalam aneka media, yaitu sarung bantal kursi, dompet dan hiasan dinding. Diharapkan setelah mengikuti pelatihan ini, peserta dapat mengembangkan keterampilan yang didapat, meningkatkan kompetensi, dan pengetahuan sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan.

Perpustakaan Daerah Kabupaten Ponorogo, terus mengembangkan ragam layanan dan kegiatannya untuk dapat memberikan ruang belajar dan berkegiatan masyarakat dengan berbasis pengetahuan. Melalui pengembangan literasi terapan, masyarakat diajak untuk dapat memahami dan mempraktekkan apa yang dipelajari sehingga nilai-nilai literasi dapat secara nyata berdampak kepada kehidupan masyarakat.
Mengintip Masjid Bersejarah di Ponorogo Melalui Kaca Pembesar Perpusda “Pojok Ponorogo”

Ponorogo, Sebuah kabupaten di Jawa Timur, tidak hanya dikenal dengan kesenian Reog-nya, tetapi juga menyimpan kekayaan sejarah Islam melalui masjid-masjid bersejarahnya. Meskipun Ponorogo termasuk kota yang kecil, namun tidak dengan peninggalan bersejarahnya yang segudang. Masjid-masjid ini tidak hanya menjadi tempat beribadah, tetapi juga menjadi pusat kegiatan sosial dan spiritual bagi masyarakat sekitar.
Hal tersebut dapat dibaca melalui buku yang ditulis oleh Farizal Hakim, A.Md., S.Sos dengan judul “Masjid Bersejarah di Kabupaten Ponorogo, 9 Masjid Bersejarah dan Makam yang Berkaitan”. Buku ini memberikan informasi mendalam mengenai sejarah masjid-masjid bersejarah di Ponorogo serta makam-makam yang terkait. Buku tersebut tersedia di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ponorogo, tepatnya di bagian “Pojok Ponorogo.”
Pengunjung yang tertarik dapat menemukan berbagai koleksi buku di Pojok Ponorogo, tidak hanya mengenai masjid-masjid bersejarah, tetapi juga tentang asal-usul Reyog, sejarah Ponorogo, Babad Ponorogo, Melihat Ponorogo Lebih Dekat, naskah kuno, dan masih banyak lagi. Dinas Perpustakaan dan Arsip Ponorogo terus mendukung masyarakat dalam memperoleh informasi berharga mengenai sejarah dan budaya lokal melalui koleksi buku yang lengkap dan tersusun rapi. Seluruh staff layanan dan informasi Perpustakaan daerah menjaga dengan baik buku-buku peninggalan yang bersejarah.
Berikut ini pembahasan singkat dari masjid bersejarah di Ponorogo yakni, Masjid Kyai Ageng Muhammad Besari (Masjid Tegalsari) yang memiliki nilai sejarah tinggi dan terus dipertahankan hingga saat ini. Masjid-masjid bersejarah di Ponorogo ini menunjukkan betapa besarnya peran agama Islam dalam membentuk karakter masyarakat di daerah ini. Dengan mempertahankan keaslian bangunan dan semangat keagamaan, Ponorogo berhasil menjaga warisan spiritual yang menjadi identitas kuat bagi masyarakatnya. Setiap masjid menyimpan cerita dan nilai yang tak ternilai, menjadi saksi bisu dari perjalanan panjang agama Islam di Ponorogo.
Masjid Kyai Ageng Muhammad Besari atau yang lebih dikenal sebagai Masjid Tegalsari, terletak di Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis, Ponorogo. Masjid ini merupakan salah satu peninggalan sejarah Islam yang sangat berpengaruh di Jawa Timur, terutama dalam penyebaran agama Islam dan pengembangan pendidikan Islam pada abad ke-18. Hingga kini, masjid tersebut masih berdiri kokoh dan menjadi saksi bisu peran pentingnya dalam perjalanan sejarah Ponorogo.
Masjid Tegalsari didirikan oleh Kyai Ageng Muhammad Besari, seorang ulama besar yang lahir pada tahun 1700 Masehi. Beliau dikenal sebagai tokoh yang berperan dalam penyebaran agama Islam di wilayah Ponorogo dan sekitarnya. Sebagai ulama kharismatik, Kyai Ageng Muhammad Besari mendirikan pesantren di Tegalsari yang kemudian menjadi salah satu pusat pendidikan Islam terbesar dan paling berpengaruh di Jawa Timur pada masa itu.
Kyai Ageng Muhammad Besari bukan hanya dikenal sebagai seorang ulama, tetapi juga sebagai guru dari banyak tokoh besar dalam sejarah Indonesia. Salah satunya adalah Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa, pendiri Keraton Surakarta, yang pernah belajar di bawah bimbingan beliau. Selain itu, hubungan erat antara Kyai Ageng Muhammad Besari dengan Kerajaan Mataram Islam membuat Tegalsari menjadi pusat spiritual yang dihormati oleh para bangsawan dan masyarakat luas.
Secara arsitektural, Masjid Tegalsari masih mempertahankan keaslian bangunan dari masa lampau. Masjid ini memiliki ciri khas arsitektur tradisional Jawa, dengan atap berbentuk tajug atau limas bertingkat, yang sering diasosiasikan dengan gaya bangunan masjid-masjid kuno di Nusantara. Bangunan utama masjid terbuat dari kayu jati yang masih kokoh hingga saat ini, memperlihatkan kekuatan konstruksi tradisional pada masanya.
Di dalam masjid, terdapat mimbar kayu jati berukir yang digunakan untuk khotbah. Mimbar ini diyakini sebagai salah satu bagian asli dari masjid sejak awal pembangunannya. Selain itu, terdapat pula bedug besar yang menjadi ciri khas masjid-masjid tua di Jawa. Ornamen-ornamen yang menghiasi bagian dalam masjid, meskipun sederhana, mencerminkan kesan spiritual dan kesederhanaan, yang sejalan dengan nilai-nilai ajaran Islam.
Halaman masjid yang luas dan asri sering digunakan untuk berbagai kegiatan keagamaan, mulai dari pengajian hingga acara besar peringatan hari-hari besar Islam. Di sekitar masjid, terdapat kompleks pemakaman keluarga besar Kyai Ageng Muhammad Besari, yang hingga kini tetap diziarahi oleh masyarakat.
Seiring berjalannya waktu, Masjid Tegalsari tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan Islam. Pesantren Tegalsari, yang didirikan oleh Kyai Ageng Muhammad Besari, menjadi salah satu pesantren tertua dan terbesar di Jawa Timur. Dari pesantren inilah lahir banyak ulama besar yang berperan dalam penyebaran ajaran Islam di Nusantara.
Pada abad ke-19, pesantren Tegalsari mulai mengalami kemunduran setelah wafatnya Kyai Ageng Muhammad Besari. Meski begitu, warisan beliau dalam bidang pendidikan Islam terus diteruskan oleh para santri dan keturunannya. Beberapa cabang dari pesantren ini bahkan berkembang menjadi pesantren-pesantren besar lainnya di wilayah Jawa Timur.
Pada era modern, Masjid Tegalsari tetap menjadi tempat yang dihormati. Masyarakat Ponorogo dan sekitarnya sering melakukan ziarah ke masjid ini, terutama pada hari-hari besar Islam, seperti Maulid Nabi Muhammad SAW dan bulan Ramadan. Selain itu, Masjid Tegalsari juga menjadi destinasi wisata religi bagi pengunjung dari berbagai daerah yang ingin mengetahui lebih dalam tentang sejarah Islam di Ponorogo.
Masjid Kyai Ageng Muhammad Besari bukan hanya sekadar bangunan tua, tetapi juga simbol kebangkitan Islam di Ponorogo. Peran penting masjid ini dalam penyebaran ajaran Islam serta sebagai pusat pendidikan membuatnya dihormati oleh berbagai kalangan. Kyai Ageng Muhammad Besari sendiri dianggap sebagai salah satu ulama besar yang berjasa dalam membentuk masyarakat Ponorogo yang religius dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam.
Meskipun pesantren Tegalsari tidak lagi sebesar masa kejayaannya, nilai-nilai yang diwariskan oleh Kyai Ageng Muhammad Besari masih terasa hingga saat ini. Banyak pesantren dan lembaga pendidikan Islam modern yang merujuk pada ajaran dan metode pengajaran beliau, menjadikan Tegalsari sebagai salah satu titik penting dalam sejarah pendidikan Islam di Indonesia.
Warisan ini harus terus dijaga dan dilestarikan oleh generasi mendatang, agar nilai-nilai yang dibawa oleh Kyai Ageng Muhammad Besari tetap hidup dalam masyarakat dan memberikan manfaat yang berkelanjutan.
Copywriter : Afifah Manuhara Putri Wina (Mahasiswa S1 Sastra Indonesia, Universitas Negeri Surabaya).
Wisata Literasi Kelompok Ilmiah Santri Junior Pondok Pesantren Al-Islam, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Ponorogo Ikut Serta dalam Menginspirasi Santri dengan Budaya Literasi
Ponorogo – Dalam upaya memperkuat budaya literasi di kalangan masyarakat, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Ponorogo menggelar Kunjungan Wisata Literasi pada Jum’at, 27 September 2024. Acara yang berlangsung di ruang pertemuan Disperpusip ini berhasil menarik perhatian puluhan pengunjung, terutama para santri. Acara ini diselenggarakan atas permintaan izin kerja sama dari Komunitas Ilmiah Santri Junior (KJSU) Pondok Pesantren Al-Islam “ASLAM” Periode 1445-1446 H/ 2023-2024 M.

Foto Bersama Usai Kegiatan WIsata Literasi
Acara dibuka dengan perkenalan oleh Master of Ceremony yakni Bu Vita dan/ mengenai perpustakaan. Demi memeriahkan kegiatan tersebut, seluruh staff layanan dan informasi perpustakaan mengadakan sosialisasi mengenai layanan perpustakaan. Tak hanya itu staff juga menyiapkan banyak hadiah untuk para santri yang berhasil menjawab quiz-quiz umum yang diajukan oleh Bu Vita dan Ustazah.
Dalam kegiatan tersebut menjelaskan banyak sekali layanan perpustakaan seperti, aplikasi Pustaka E-Wengker. Sebuah platform digital inovatif yang dirancang untuk memudahkan akses terhadap buku dan sumber daya literasi. Melalui aplikasi ini, pengguna dapat menjelajahi koleksi buku digital dan berbagai informasi penting tentang literasi. “Kami berharap aplikasi ini dapat memfasilitasi minat baca, terutama di era digital saat ini, jadi ke depannya akan lebih mudah untuk membaca” ujar Bu Vita.
Selanjutnya, peserta diajak untuk belajar step-step membuat kartu keanggotaan perpustakaan, yang merupakan langkah awal bagi mereka untuk memanfaatkan berbagai layanan perpustakaan. Proses pembuatan kartu ini dirancang agar mudah diikuti, memberikan akses yang lebih luas kepada masyarakat untuk menikmati fasilitas yang disediakan.
Salah satu kegiatan menarik dalam acara ini adalah perkenalan proyek kerja sama antara Disperpusip Ponorogo dan LKP Rida Bordir. Dalam video tersebut dijelaskan bahwa proyek ini bertujuan untuk mengintegrasikan keterampilan praktis bagi masyarakat. Dalam suasana yang penuh keceriaan, sesi kuis yang dipandu oleh Bu Vita dan Ustazah menjadi sorotan utama. Anak-anak dengan semangat menjawab berbagai pertanyaan tentang buku dan literasi, pertanyaan quiz berasal dari video-video yang telah ditampilkan sebelumnya.

Peserta sedang menikmati koleksi bacaan di perpustakaan daerah
Para santi berkompetisi untuk menjawab quiz dan mendapatkan hadiah menarik. Acara ini semakin hidup dengan penampilan yel-yel dari sekolah, nyanyian lagu “Indonesia Raya,” serta pembacaan puisi dari salah satu peserta bertema “Hujan”. Tidak hanya itu, para siswa juga memperagakan Salam Literasi yang merupakan simbol dukungan mereka terhadap budaya membaca.
Sebagai penutup, pengunjung diarahkan menuju ruang baca, di mana mereka dapat menikmati berbagai buku yang tersedia. Beberapa anak bahkan antusias mengisi formulir pendaftaran sebagai anggota perpustakaan, menunjukkan komitmen mereka untuk terus belajar dan membaca. Kunjungan Wisata Literasi ini diharapkan dapat menjadi momentum bagi masyarakat Ponorogo, khususnya anak-anak Pondok Pesantren Al-Islam, untuk lebih mencintai dunia literasi. “Kami ingin mengajak semua kalangan untuk bersama-sama membangun budaya baca yang kuat. Dengan membaca, kita dapat membuka wawasan dan memperkaya pengetahuan,” ujar salah satu peserta saat dipersilahkan
Acara ini tidak hanya sukses dalam menarik minat, tetapi juga membangun kesadaran akan pentingnya literasi dalam kehidupan sehari-hari, menjadikan Ponorogo sebagai kota yang berbudaya dan berliterat tinggi.
Content Writer: Afifah Manuhara Putri Wina (Mahasiswa S1 Sastra Indonesia, Universitas Negeri Surabaya).
Peringatan Hari Kunjung Perpustakaan: Menggugah Minat Baca Anak Melalui Kegiatan Edukatif bersama Kak Ucon
Ponorogo, Kamis 12 September 2024 – Pada peringatan Hari Kunjung Perpustakaan, 14 September 2024, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Ponorogo mengadakan kegiatan edukatif yang dihadiri oleh sobat pustaka dari tiga TK yang ada di Ponorogo, yaitu RA Muslimat Mayak, BA Muslimat 1 Nologaten, dan TK Al-Kautsar. Acara ini bertujuan untuk menumbuhkan minat baca dan memperkenalkan perpustakaan kepada anak-anak sejak usia dini. Karena, membaca adalah jendela dunia, dan buku merupakan perantaranya.
Acara tersebut dimeriahkan oleh penampilan Kak Ucon, seorang pendongeng nasional yang menyuguhkan dongeng lucu dengan menggabungkan humor, edukasi, dan boneka untuk menyampaikan pesan moral tentang cara meminta maaf dengan benar. Kak Ucon menggunakan metode yang interaktif dan menyenangkan, memadukan elemen visual dan lisan untuk memudahkan anak-anak dalam menyerap pesan.

Sesi foto bersama Kak Ucon dengan anak-anak
Hal ini penting karena anak usia dini cenderung lebih mudah memahami konsep abstrak melalui permainan, visualisasi, dan dongeng. Anak-anak diajak aktif berpartisipasi, tertawa bersama, dan terlibat dalam cerita-cerita lucu yang dibawakan oleh Kak Ucon. Tak hanya mendengarkan cerita, mereka juga diajak menjelajahi perpustakaan, mengenal berbagai jenis buku, serta menikmati ruang bermain yang disediakan.
Kreativitas ini tidak hanya membuat acara lebih menarik, tetapi juga meningkatkan daya ingat anak terhadap nilai-nilai yang disampaikan. Seluruh staf bidang Layanan dan Informasi Perpustakaan, beserta para pemagang di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Ponorogo, menunjukkan antusiasme luar biasa dalam menyambut tamu pada Hari Kunjung Perpustakaan. Mereka berperan aktif memastikan acara berjalan lancar, mulai dari memandu anak-anak selama kegiatan berlangsung hingga berinteraksi dengan para guru. Kehangatan penyambutan ini memberikan suasana yang ramah dan penuh semangat, menciptakan pengalaman yang menyenangkan bagi semua pihak yang berpartisipasi.
Partisipasi dari para pemagang juga memberikan dampak positif. Mereka tidak hanya membantu dalam pelaksanaan acara, tetapi juga belajar langsung tentang bagaimana mengelola sebuah kegiatan besar yang melibatkan banyak peserta.

Kak Ucon bersama pemenang kuis
Acara ini semakin semarak dengan pembagian aneka hadiah dan balon untuk semua peserta, menambah keceriaan suasana. Di akhir sesi, Kak Ucon memberikan kuis edukatif dengan cara jenaka, menguji pemahaman anak-anak terhadap materi yang telah disampaikan. Melalui pendekatan yang menyenangkan dan interaktif, Hari Kunjung Perpustakaan ini berhasil meningkatkan kesadaran anak-anak akan pentingnya literasi sejak dini, sekaligus menanamkan rasa cinta terhadap buku dan perpustakaan.
Content writer: Afifah Manuhara Putri Wina (Mahasiswa Sastra Indonesia UNESA)
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ponorogo Gelar Getuk Golan: Gerakan Bertutur Keliling, Games, Outbound dan Literasi Anak

Anak-anak sedang mendengarkan cerita dari Kak Ucon
Ponorogo, 2 Juni 2024 – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ponorogo menggelar acara Getuk Golan (Gerakan Bertutur Keliling, Games, Outbound dan Literasi Anak), sebuah program inspiratif yang menggabungkan dongeng, permainan, outbound, dan literasi anak di Taman Kelono Sewandono. Acara yang berlangsung pada Ahad pagi ini berhasil menarik antusiasme anak-anak beserta orang tua dari berbagai penjuru Kabupaten Ponorogo.
Kegiatan ini dihadiri oleh Kak Ucon, seorang pendongeng nasional yang sangat dikenal dengan cerita-cerita inspiratifnya. Selain itu, acara ini juga didukung penuh oleh Tim Layanan Ekstensi dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ponorogo serta mahasiswa Ilmu Komunikasi UNIDA Gontor yang tengah menjalani program magang. Anak-anak dan orang tua yang hadir tampak menikmati setiap momen acara, yang diselenggarakan dengan meriah dan penuh keceriaan.

Keceriaan anak-anak dalam kegiatan GetukGolan
Getuk Golan dirancang dengan berbagai kegiatan menarik. Dimulai dengan sesi dongeng oleh Kak Ucon yang mampu memikat perhatian anak-anak dengan cerita-cerita yang penuh makna. Selain itu, acara ini juga diisi dengan permainan, sulap, keterampilan origami, bernyanyi, dan pembagian hadiah, menjadikan hari tersebut penuh kegembiraan dan edukasi.
Tujuan utama dari penyelenggaraan Getuk Golan adalah memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengekspresikan diri. Menurut Dra. Agus Sriwahyuni, M.Si., Kepala Bidang Layanan dan Informasi Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ponorogo, “Selain menumbuhkan minat baca, acara ini memberikan ruang bagi anak untuk mengekspresikan diri, serta mempererat hubungan antara anak dengan orang tua dan teman sebayanya.”
Kak Ucon juga menambahkan, “Acara ini diadakan untuk menumbuhkan minat baca dan bercerita, memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengekspresikan diri, dan mengembalikan dunia anak, dunia bermain, bercerita, dan bersosialisasi dengan teman sebayannya.”
Acara Getuk Golan yang berlangsung di Taman Kelono Sewandono sukses memberikan dampak positif bagi anak-anak dan orang tua yang hadir. Melalui kegiatan ini, anak-anak tidak hanya mendapatkan hiburan, tetapi juga pembelajaran yang berharga dalam mengembangkan minat baca, keterampilan bercerita, dan bersosialisasi dengan teman sebaya. Diharapkan acara serupa dapat terus diselenggarakan untuk mendukung perkembangan anak-anak di Kabupaten Ponorogo.
Reporter: Aryyo Widagdho, Muh. Hafidz Fadhlar Rohman dan M. Jundi Robbani, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNIDA Gontor
Penelusuran Arsip Sejarah Lambang Daerah Kabupaten Ponorogo

Drs. Magoen Oetomo sedang menunjukkan bagian dan makna dari lambang daerah Kabupaten Ponorogo
Ponorogo, 28 Mei 2024 – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ponorogo menggelar acara penelusuran arsip untuk mendokumentasikan sejarah penciptaan lambang daerah Kabupaten Ponorogo. Kegiatan yang berlangsung di kediaman Drs. H. Mangoen Oetomo ini bertujuan melestarikan sejarah arsip Ponorogo dan menyusun sejarah lisan penciptaan lambang daerah tersebut.
Drs. H. Mangoen Oetomo, pencipta lambang daerah tersebut, terlibat langsung dalam kegiatan ini. “Kami berharap kegiatan ini dapat memperkaya pengetahuan masyarakat tentang identitas visual Ponorogo,” ujar Dra. Agus Sriwahyuni, M.Si., Kepala Bidang Layanan dan Informasi Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ponorogo.
Penelusuran arsip ini dilakukan dengan menggali dokumen tertulis serta narasi dari Drs. H. Mangoen Oetomo. Diharapkan kegiatan ini dapat menghasilkan informasi tertulis seperti surat keputusan penetapan lambang daerah serta cerita nyata yang dapat disampaikan ke masyarakat dalam bentuk digital. Proses ini memakan waktu satu hari untuk koordinasi dan penelusuran, dengan hasil yang akan diolah dan diedit kemudian.
Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak, termasuk arsiparis, pustakawan, dan mahasiswa Ilmu Komunikasi dari UNIDA Gontor. Tim juga dibentuk untuk menangani berbagai aspek kegiatan, seperti pengambilan video dan foto, wawancara, serta pengeditan.

Drs. Magoen Oetomo dengan semangat yang tak pernah pudar untuk memberikan yang terbaik bagi Kabupaten Ponorogo
Lambang daerah Kabupaten Ponorogo, yang dibuat pada tahun 1968, didesain oleh Drs. H. Mangoen Oetomo. Inspirasi pembuatan lambang daerah berasal dari ide pribadi, referensi Al-Qur’an, dan Hadist Rasulullah serta mengambil dari nilai-nilai luhur budaya lokal Ponorogo. Lambang ini mencerminkan kehidupan masyarakat Ponorogo, dengan elemen-elemen seperti Wara’ (ahli ibadah), qana’ah (merasa cukup), simbol-simbol keindahan, dan filosofi hidup.
Lambang daerah Ponorogo memiliki sebelas komponen utama dan filosofinya. Bintang Emas Bersudut Lima melambangkan Ketuhanan Yang Maha Esa dan dasar negara Pancasila. Sinar Cahaya melambangkan petunjuk Tuhan menuju kesejahteraan rakyat. Gapuro Bentar mencerminkan kejayaan di bawah Batoro Kathong, sedangkan Penampang Reyog dengan Lima Jalur di Atas Empat Trap mengesankan angka bersejarah 45 (tahun Proklamasi 1945). Selain itu, Gunung Terdiri dari Dua Puncak melambangkan lokasi Ponorogo di antara Gunung Lawu dan Gunung Wilis. Samudra Lepas mencerminkan pemerintahan yang abadi. Pita dan Garis Cakrawala adalah simbol tugas yang harus diselesaikan. Padi Berbiji 17 dan Kapas Berbuah 8 melambangkan Proklamasi 17 Agustus dan kemakmuran daerah. Tulisan Ponorogo melambangkan mawas diri dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Output dari kegiatan ini termasuk rekaman video, audiovisual, dan laporan. Hasil penelusuran akan diolah dan kemudian dilayankan sebagai bahan referensi penilitian dan pendidikan, serta diunggah di situs YouTube dan JIKN (Jaringan Informasi Kearsipan Nasional). “Acara ini sangat penting untuk menyelamatkan dan melestarikan sejarah agar tidak tenggelam dan bisa disampaikan kepada masyarakat dalam bentuk digital maupun audiovisual,” tambah Dra. Agus Sriwahyuni, M.Si.
Penelusuran arsip ini bukan hanya upaya untuk melestarikan sejarah, tetapi juga untuk memberikan edukasi kepada generasi mendatang tentang identitas dan warisan budaya Kabupaten Ponorogo. Hasilnya diharapkan dapat diakses oleh siapa saja yang ingin mengenal lebih dalam sejarah dan filosofi di balik lambang daerah Kabupaten Ponorogo.
Reporter: Aryyo Widagdho, M. Jundi Rabbani & Muh. Hafidz Fadhlur Rohman (Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNIDA Gontor)
Pelatihan Menjahit dalam Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial

Ponorogo, Rabu, 22 Mei 2024 – Dalam rangka melaksanakan Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ponorogo, bekerjasama dengan LKP Rida Bordir, menyelenggarakan pelatihan menjahit. Kegiatan pelatihan ini dibagi menjadi 2 sesi. Sesi pertama yaitu pembekalan materi untuk peserta, dilaksanakan di perpustakaan Daerah Kabupaten Ponorogo, dan sesi kedua yaitu praktek menjahit dilaksanakan di laboratorium LKP Rida Bordir.
Kegiatan ini dimulai dengan perekrutan peserta, yang kemudian dilanjutkan dengan serangkaian proses seperti pengukuran badan, pembuatan pola, dan praktek menjahit. Peserta yang berusia 15-25 tahun, dan belum memiliki pekerjaan, diberikan pelatihan intensif selama satu hingga dua bulan. Mereka diajarkan tidak hanya keterampilan menjahit, tetapi juga bekal kewirausahaan, pengelolaan, dan administrasi untuk mempersiapkan mereka membuka usaha mandiri.
Farida Widyastuti, S.E., pimpinan LKP Rida Bordir, menjelaskan tujuan dari program ini: “Kami ingin mengembangkan ilmu dan teknologi di bidang pendidikan non-formal, membantu pemerintah dalam menyukseskan pembangunan nasional, serta mencetak sumber daya manusia yang terampil dan profesional. Kami juga berkomitmen untuk menjadi lembaga pendidikan yang memiliki jiwa wirausaha.”
Pelatihan yang dimulai pada tanggal 22 April 2024 ini melibatkan 25 peserta yang telah melalui proses seleksi ketat dari lebih dari 50 pendaftar. Dengan total durasi 250 jam, pelatihan diadakan setiap hari Senin hingga Sabtu selama enam jam per hari. Setelah proses seleksi, diadakan technical meeting untuk menjelaskan rincian program dan pembagian kelompok berdasarkan tingkat kemampuan menjahit.
Pelatih yang terlibat berasal dari berbagai latar belakang, termasuk staf LKP Rida Bordir, sarjana tata busana, narasumber luar, Dinas Perdakum, dan Asosiasi UMKM. Pelatihan juga direncanakan untuk disabilitas dan tuna rungu dengan menghadirkan guru dari SLB, menunjukkan inklusivitas program ini. Untuk referensi materi pelatihan menjahit, peserta dapat meminjam secara gratis di perpustakaan daerah Kabupaten Ponorogo, dengan syarat menjadi anggota perpustakaan terlebih dahulu.
Program ini telah menunjukkan dampak positif yang signifikan. Para peserta tidak hanya memperoleh keterampilan teknis menjahit, tetapi juga siap membuka usaha sendiri. “Dengan keterampilan yang saya pelajari di sini, saya berharap bisa membuka usaha kecil di rumah,” ujar Gandhi, salah satu peserta.

Peserta sedang praktik menjahit
Respon masyarakat terhadap program ini sangat positif. Kerjasama antara perpustakaan dan LKP Rida Bordir dalam menyediakan bahan ajar berupa modul dan buku-buku menjadi salah satu kunci sukses program ini. Produk yang dihasilkan oleh peserta meliputi kebaya, blush, seragam, mukena, dan gaun, yang menunjukkan keragaman keterampilan yang diajarkan.
Dra. Agus Sriwahyuni, M.Si. Kepala Bidang Layanan dan Informasi Perpustakaan Dan Kearsipan, menyampaikan bahwa Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial ini diharapkan terus berlanjut dan berkembang, memberikan manfaat yang lebih luas lagi di masa depan. Program ini menjadi contoh sukses bagaimana perpustakaan bisa bertransformasi menjadi pusat pemberdayaan masyarakat yang efektif dan inklusif.
Dengan demikian, perpustakaan telah berhasil bertransformasi menjadi lebih dari sekadar tempat membaca, tetapi juga sebagai pusat kegiatan masyarakat yang mampu mencetak lulusan dengan keunggulan bersaing dan jiwa wirausaha yang kuat.
Reporter: Aryyo Widagdho, Muh. Hafidz Fadhlur Rohman & M. Jundi Robbani
(Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNIDA Gontor)
Serunya Mengikuti Pelatihan Membuat Frozen Food di Perpustakaan Daerah Kabupaten Ponorogo

Ponorogo – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ponorogo melalui Bidang Layanan Dan Informasi Perpustakaan dan Kearsipan, kembali menyelenggarakan kegiatan pelibatan masyarakat dalam program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial, pada Selasa, 21 November 2023 bertempat di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ponorogo.
Tema pelatihan kali ini adalah membuat forzen food, diantaranya adalah membuat dimsum gyoza, nugget sayur dan drumstick. Pelatihan ini diikuti oleh 30 orang peserta dari berbagai kalangan diantaranya adalah mahasiswa, guru, karyawan swasta dan ibu rumah tangga. Dalam sambutannya Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ponorogo, Drs. Joni WIdarto, M.Si menyampaikan bahwa perpustakaan bukan lagi hanya menjadi tempat membaca buku tetapi perpustakaan terus bertransformasi dan berkembang menyesuaikan kebutuhan penggunanya, salah satunya adalah melalui adanya literasi terapan berupa pelatihan dan kegiatan pelibatan masyarakat lainnya.

Peserta sedang mengolah adonan menjadi frozen food
Pada kesempatan ini hadir pula Assisten Administrasi Umum Dewi WUri Handayani,S.Sos yang secara langsung memberikan dukungannya agar perpustakaan semakin kreatif dalam mengemas kegiatannya, sehingga tidak ditinggalkan oleh penggunanya.
Seluruh peserta dengan aktif dan penuh semangat mengikuti kegiatan ini hingga selesai dan dengan bangga mempersembahkan hasil karyanya untuk dipamerkan dan dinilai. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ponorogo akan berusaha untuk terus memfasilitasi masyarakat dalam mengembangkan dirinya, dan memperkenalkan kepada masyarakat bahwa perpustakaan terbuka untuk umum dan semua layanannya dapat diakses secara gratis.
Salam Literasi
copywriter Vitasa / Photo Taufiqurrahman
Kabupaten Ponorogo Meraih Juara 1 Lomba Bertutur Bagi Siswa/Siswi SD/MI Tingkat Provinsi Jawa Timur Tahun 2023

Penampilan Rofi Peserta Lomba Bertutur Tingkat Provinsi dari Kabupaten Ponorogo
Ponorogo – Kabupaten Ponorogo berhasil meraih Juara 1 Lomba Bertutur bagi siswa/siswi SD/MI Tingkat Provinsi Jawa Timur, yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan Dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur pada Rabu [02/08/2023] bertempat di Stage East Atrium, Ground Floor, Grand City Mall, Jl. Walikota Mustajab No. 1 Surabaya.
Rofi Al Afijah atau yang biasa dipanggil dengan sapaan Rofi merupakan siswi kelas 5 SDN 5 Krebet Jambon yang mewakili Kabupaten Ponorogo, mampu mengalahkan 23 peserta dari perwakilan Kabupaten/Kota di Wilayah Provinsi Jawa Timur. Pembawaanya yang polos, cerdas, lucu dan penuh semangat mampu menghibur dan mempukau dewan juri dan seluruh peserta serta pendamping lomba yang hadir dan turut menyaksikan pada kegiatan lomba pada kesempatan ini. Keterbatasan tidak menyurutkan semangatnya untuk terus maju dan berprestasi hingga ditingkat Provinsi Jawa Timur.
Berbeda dengan tahun – tahun sebelumnya, yang selalu membawakan cerita tentang reog, pada tahun 2023 ini, Ponorogo mencoba menggali dan memperkenalkan kekayaan konten lokal lainnya, yaitu cerita legenda asal Desa Nambangrejo Sukorejo dengan judul “Tong-tong Srot” karya Safri Chandra Waskita. Naskah cerita ini adalah hasil lomba penulisan konten lokal Ponorogo yang juga diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan Dan Kearsipan Kabupaten Ponorogo Tahun 2023.
Tahun sebelumnya Ponorogo juga menorehkan prestasi di Lomba Bertutur Tingkat Provinsi Jawa Timur dengan menyabet Juara 2. Dan seperti yang diharapkan tahun ini dapat meningkatkan prestasinya menjadi Juara 1 Tingkat Provinsi Jawa Timur. Pemenang juara 1 dalam lomba bertutur bagi siswa/siswi SD/MI Tingkat Provinsi Jawa Timur Tahun 2023 berhak mendapatkan penghargaan berupa uang pembinaan sebesar Rp. 3.000.000,- (Tiga Juta Rupiah), Trophy dan Piagam Penghargaan. Penyerahan penghargaan menunggu jadwal dari Dinas Perpustakaan Dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur.
Kepala Dinas Perpustakaan Dan Kearsipan Kabupaten Ponorogo Drs. Joni Widarto, M.Si menyampaikan dukungan dan harapannya, semoga Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ponorogo mampu menggali potensi daerah dan meningkatkan prestasi serta menebarkan budaya dan kegemaran membaca di wilayah Kabupaten Ponorogo untuk menuju Ponorogo Hebat Berbudaya Literasi.
Salam Literasi
Copywiter Vitasa / Foto Farizal Hakim